GARUT – JABAR 60 DETIK, Gerakan sebuah jam’iyyah tidak cukup diukur dari banyaknya program yang digulirkan. Lebih dari itu, ia diuji oleh sejauh mana gerakan tersebut mampu menjawab kebutuhan umat dan menghadirkan kemaslahatan di tengah masyarakat.
Semangat itulah yang terasa dalam Pra-Musyawarah Kerja Daerah (Pra-Muskerda) III PERSIS Garut Tahun 2026 yang digelar di SMKS Nuurul Muttaqin, Jalan Raya Cisurupan Nomor 160, Garut, Ahad (13/9/2026).

Mengangkat tema “Optimalisasi Gerakan Jihad Jam’iyyah PERSIS dalam Membangun Garut yang Bertaqwa, Unggul, dan Berkelanjutan”, forum tersebut menjadi momentum konsolidasi sekaligus ikhtiar menata kembali arah perjuangan jam’iyyah agar semakin kokoh menghadapi tantangan zaman.
Kegiatan dibuka langsung oleh H. Uus Kusnawan, MBA., selaku Wakil Ketua I. Dalam pembukaannya, H. Uus menekankan pentingnya menjadikan jam’iyyah sebagai ruang pengabdian yang tidak berhenti pada persoalan struktural organisasi, tetapi berujung pada kemanfaatan bagi umat.
“Jihad jam’iyyah harus kita maknai sebagai kesungguhan dalam menjalankan amanah organisasi. PERSIS harus hadir, bukan hanya untuk menguatkan internal jam’iyyah, tetapi juga memberikan kontribusi nyata bagi umat dan masyarakat,” ungkap H.Uus

Pra-Muskerda bukan sekadar forum persiapan menuju Muskerda. Di dalamnya terdapat kebutuhan untuk melakukan muhasabah: sejauh mana gerakan jam’iyyah telah berjalan sesuai dengan cita-cita perjuangan yang diwariskan para pendahulu.
Perubahan sosial yang begitu cepat menghadirkan tantangan baru. Umat berhadapan dengan persoalan pendidikan, ekonomi, ketahanan keluarga, perkembangan teknologi, hingga perubahan karakter generasi muda.
Dalam situasi demikian, gerakan dakwah tidak boleh kehilangan ruh. Namun, pada saat yang sama, dakwah juga dituntut mampu membaca zaman.
PERSIS Garut memiliki ruang yang luas untuk memainkan peran tersebut. Kekuatan dakwah, pendidikan, kaderisasi, sosial, dan pembinaan umat merupakan modal penting untuk membangun masyarakat yang tidak hanya religius, tetapi juga berpengetahuan, mandiri, dan memiliki daya saing.
Tema “Garut yang Bertaqwa, Unggul, dan Berkelanjutan” menjadi relevan dalam konteks tersebut. Ketakwaan menjadi fondasi moral, keunggulan menjadi ikhtiar meningkatkan kualitas manusia, sedangkan keberlanjutan menuntut agar setiap gerakan tidak berhenti sebagai program sesaat.
Pra-Muskerda juga menjadi ruang untuk mempertemukan gagasan dari berbagai unsur jam’iyyah. Perbedaan pandangan dalam forum organisasi semestinya tidak menjadi sekat, tetapi menjadi energi untuk menemukan formulasi gerakan yang lebih baik.

Sebab, kekuatan jam’iyyah bukan hanya terletak pada struktur, melainkan pada kesediaan setiap kader untuk mengambil bagian dalam amal perjuangan.
Di sinilah makna jihad jam’iyyah menemukan relevansinya. Jihad bukan semata istilah yang besar dalam wacana, melainkan kesungguhan yang diterjemahkan menjadi kerja: mendidik, berdakwah, membina, memberdayakan, melayani, dan menghadirkan solusi bagi persoalan umat.
Pra-Muskerda III PERSIS Garut 2026 akhirnya bukan sekadar persinggahan menuju Muskerda. Ia menjadi salah satu ikhtiar untuk memastikan bahwa gerak jam’iyyah tetap memiliki arah, ruh perjuangan tetap terpelihara, dan setiap program benar-benar bermuara pada khidmat untuk umat dan kemaslahatan masyarakat Garut.
Dari Garut, jihad jam’iyyah itu mesti terus dirawat: kuat dalam aqidah, tajam dalam membaca zaman, dan nyata dalam amal.
Kontributor: Hilman
Editor: Firah Rahmawati









